Rabu, 19 September 2018 19:39:00

BI Cemaskan Rupiah KO Lagi

NASIONAL, - Bank Indonesia (BI) menilai pelemahan rupiah merupakan dampak dari kebijakan Amerika Serikat (AS) mengenakan bea impor 10% terhadap produk China per 24 September 2018. Efek ini bakal panjang.
 
Episode baru dari perang dagang antara dua raksasa ekonomi dunia itu, menyulut depresiasi pada nilai mata uang di negara berkembang, termasuk Indonesia. China juga telah berulang kali menegaskan bakal melakukan aksi balasan atas pengenaan bea masuk yang begitu tinggi dari pemerintahan Donald Trump.
 
"Sentimen itu (perang dagang) yang paling berperan, risiko AS-China telah mengena mata uang negara-negara berkembang," kata Deputi Gubernur BI, Dody Budi Waluyo di Jakarta, Selasa (18/9/2018).
 
Beban bea impor yang bakal dikenakan Trump itu, nilainya ekivalen dengan US$200 miliar atau hampir Rp3.000 triliun. Pada awal 2018, terdapat kemungkinan AS akan kembali mengerek bea impor menjadi 25%.
 
Dampak eksternal dari perang dagang dua negara adikuasa ini merupakan hal yang paling sulit dikalkulasi oleh bank sentral dari negara berkembang untuk menyusun kebijakan antisipatif guna menjaga stabiltas perekonomian.
 
Dody berjanji, BI bank sentral akan tetap berada di pasar untuk melakukan intervensi nilai kurs secara terukur. "Mudah-mudahan tekanannya tidak terlalu besar. Itu adalah salah satu risiko eksternal yang kami lihat dan itu juga kena ke mata uang di emerging markets," harap Dody.
 
Tekanan dari perang dagang ini juga menjadi salah satu penyulut tekanan eksternal yang akan menerpa nilai rupiah selama sisa tahun ini, selain kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS The Federal Reserve.
 
BI akan melakukan Rapat Dewan Gubernur pada 26-27 September 2018 untuk menentukan kebijakan stabilisasi. "Kami akan lihat di pekan depan RDG. semua risiko kami lihat dari eksternal dan domestik, tidak ada yang baru dengan proses yang kita lakukan bulan-bulan sebelumnya," ujar dia.
 
Hingga Selasa siang (18/9/2018), sekitar pukul 12.00 WIB, rupiah berada di posisi Rp14.933 per US$. Melemah 0,35% (53 poin) dibanding penutupan sehari sebelumnya. Mata uang Garuda sebelumnya dibuka melemah 18 poin, atau 0,12% di posisi Rp14.898 per US$.
 
Per Selasa ini, Bank Indonesia mematok kurs tengah di Rp14.908 per US$, melemah 49 poin atau 0,32% dari posisi Rp14.859 pada Senin (17/9/2018). (inilah).
Share
Berita Terkait
  • satu jam lalu

    Aspire Secures Securities and Asset Management Licences from Hong Kong's Securities and Futures Commission

    Regulatory milestone paves the way for launch of Aspire Yield, enabling businesses to e
  • satu jam lalu

    New Research from ST Telemedia Global Data Centres Reveals Asia's AI Ambitions Hampered by Infrastructure and Talent Gaps

    Singapore leads the region in maturity but faces critical scaling bottlenecks.
  • satu jam lalu

    Huawei Cloud Introduces Token Service in Asia Pacific

    JAKARTA, INDONESIA - Media OutReach Newswire - 15 April 2026 - Huawei Cloud AI Boost Da
  • satu jam lalu

    AI Compute, Simplified: ST Telemedia Global Data Centres and SuperX Debut AI Innovation Centre in Singapore

    Strategic partnership combines STT GDC's resilient infrastructure with SuperX AI o
  • Komentar
    Copyright © 2012 - 2026 riauone.com | Berita Nusantara Terkini. All Rights Reserved.Jasa SEO SMM Panel Buy Instagram Verification Instagram Verified