Kamis, 06 September 2018 07:48:00

Hari ini 06 September 2018 Dolar masih Rp15 ribu lebih

NASIONAL, - Hingga pagi ini 06 September 2018 nilai tukar rupiah terhadap dolar masih sangat tinggi, 1USD = Rp15.001.05.
 
Kementerian Keuangan mengumumkan aturan baru terkait pengenaan PPh impor (Pasal 22) pada Rabu (5/9/2018). Regulasi ini berbentuk Peraturan Menteri Keuangan (PMK) dan merupakan revisi dari PMK Nomor 34 Tahun 2017 tentang Penetapan Sistem Klasifikasi Barang dan Pembebanan Tarif Bea Masuk atas Barang Impor.
 
Dalam PMK tersebut, Kemenkeu bertujuan mengendalikan laju impor barang konsumsi yang jumlahnya ditaksir mencapai 900 komoditas. Upaya ini ditempuh guna mengendalikan laju impor di tengah defisit transaksi berjalan yang kian melebar.
 
“Ini karena kenaikan dari impor barang konsumsi, terutama pada Juli dan Agustus [2018], melonjaknya sangat tinggi. Lebih dari 50 persen pertumbuhannya,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Kompleks Parlemen, Jakarta, pada Selasa (4/8/2018). 
 
Saat ini, pemerintah memang tengah berupaya menekan defisit transaksi berjalan. Dengan kondisi nilai tukar dolar AS terhadap rupiah yang mencapai level Rp14.927 berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), Rabu (5/9/2018), maka strategi menekan defisit transaksi berjalan menjadi sangat penting.
 
Alasannya, defisit transaksi berjalan merupakan faktor penekan utama mata uang rupiah. Apabila pemerintah berhasil memperbaiki kondisi transaksi berjalan, rupiah pun bisa lebih bertenaga serta tidak mudah terombang-ambing karena gejolak perekonomian global yang berlangsung saat ini. 
 
Dalam menentukan barang impor yang masuk ke dalam daftar, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengklaim, pemerintah telah merinci dan memilah hingga akhirnya muncul 900 komoditas itu. Ia menyebutkan pemerintah fokus pada barang-barang impor yang tidak memiliki nilai tambah besar di dalam negeri, namun tercatat menggerus devisa. 
 
“Namun kami akan terus menjaga kebutuhan devisa di dalam negeri supaya tetap bisa dipenuhi. Sehingga sektor usaha yang masih membutuhkan, terutama untuk bahan baku dan barang modal tertentu bisa dijaga,” ujar Sri Mulyani. 
 
Bank Indonesia (BI) mendukung langkah pemerintah mengeluarkan aturan terkait kenaikan tarif PPh Pasal 22 ini. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, langkah tersebut merupakan upaya jangka pendek guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. 
 
Perry menilai penerbitan PMK dapat berkontribusi terhadap defisit transaksi berjalan yang lebih rendah pada tahun depan. Kebijakan menaikkan tarif PPh impor tersebut sejalan dengan sejumlah strategi lain yang dilakukan pemerintah, seperti kebijakan biodiesel (B20), menggenjot sektor pariwisata, serta menunda pelaksanaan proyek infrastruktur yang belum financial closing.
 
“Kondisi defisit transaksi berjalan pada tahun depan yang lebih rendah, dipengaruhi oleh tekanan terhadap rupiah yang juga rendah. BI sendiri memperkirakan defisit transaksi berjalan tahun ini berkisar 2,5 persen terhadap PDB (Produk Domestik Bruto)” jelas Perry di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa kemarin.
 
Akan tetapi, ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira menilai penerbitan revisi PMK itu tidak akan berdampak signifikan. Persentase porsi barang konsumsi terhadap keseluruhan nilai impor Indonesia hanya tercatat 9,23 persen pada Januari-Juli 2018. 
 
Mayoritas porsi masih terdiri dari bahan baku dan penolong sebesar 75,02 persen dan barang modal yang tercatat 15,75 persen. Dengan demikian, pengaturan kebijakan terhadap impor barang konsumsi menjadi yang paling kecil risikonya. 
 
“Untuk impor barang konsumsi, kalau di dalam negerinya tidak ada substitusi yang mampu berdaya saing, itu malah bisa menimbulkan inflasi ke masyarakat. Sehingga justru akan menekan daya beli masyarakat,” ungkap Bhima kepada reporter Tirto, Rabu (5/9/2018). 
 
Lebih lanjut, Bhima mengatakan keputusan untuk menaikkan tarif PPh impor itu sebagai bentuk kepanikan pemerintah. Bhima menduga tidak ada jalan pintas lain yang lebih mudah dilakukan di saat kebijakan pengendalian impor selama ini tidak pernah berjalan mulus. 
 
Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi rumah tangga memang cenderung terus meningkat dari kuartal ke kuartal. Pada kuartal II 2018 misalnya, besarannya mencapai 5,14 persen. 
 
Bhima mengatakan peningkatan konsumsi rumah tangga itulah yang lantas mendorong impor barang konsumsi naik, padahal pemerintah tidak memiliki rencana pengendalian impor yang efektif. Dengan PMK Nomor 34 Tahun 2017 sekalipun, pengaturan pajak yang dikenakan tak berdampak pada biaya impor karena tarifnya masih tetap murah. 
 
“Makanya yang paling efektif memang bukan menaikkan tarif PPh impor, tapi membangun substitusi barang-barang impor itu sendiri. Meski memang bersifat jangka panjang, namun itu lebih efektif,” ucap Bhima. (tir/net/*).
Share
Berita Terkait
  • 13 jam lalu

    Update Aksi Kemanusiaan BAZNAS: Langkah Kebaikan untuk Penyintas Banjir dan Disabilitas

    Update Aksi Kemanusiaan BAZNAS: Langkah Kebaikan untuk Penyintas Banjir dan Disabilitas

    Perkembangan respon BAZNAS terhadap bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah. H

  • 13 jam lalu

    Axis Quant AI Introduces Intelligent Algorithmic Trading to the Crypto Market via API Integration

    MEXICO CITY, MEXICO - 29 January 2026 - As large AI models accelerate tow
  • 13 jam lalu

    Vincom Retail Launches Vincom Collection - A Next Generation Multi-Experience Commercial Town Model

    HANOI, VIETNAM - 29 January 2026 - Vincom Retail Joint Stock Company offi
  • 13 jam lalu

    TAT Unveils Lalisa 'LISA' Manobal as Amazing Thailand Ambassador, Inviting Travellers to 'Feel All the Feelings'

    Komentar
  • 1
    Kilas Global  3 hari lalu

    SKG Unveils Integrated Cloud Logistics Ecosystem in Hong Kong, Aligning with Global Financial & Logistics Hub Strategy

  • 2
    Kilas Global  3 hari lalu

    EasySMX Launches S10 Lite: The Top Budget Switch 2 Controller with Native Support & 9-Axis Precision

  • 3
    Kilas Global  4 hari lalu

    AsiaPac and AsiaPay Forge Strategic Partnership to Launch a Unified "Marketing-plus-Payment" Growth Engine for Asia

  • 4
    Riau Raya  5 hari lalu

    Ribuan Warga Inhu Bertahan Jaga Kebun, Tolak KSO PT Agrinas-PT TDE

  • 5
    Kilas Global  3 hari lalu

    Vinfast and Autobrains announce Strategic Partnership on Developing Autonomous Driving Technology and Affordable Robo-Car

  • 6
    Kilas Global  4 hari lalu

    Hong Kong Techathon+ 10th Anniversary Finale and Inaugural Global University Innovation Network (GUIN) Forum Successfully Held

  • 7
    Kilas Global  4 hari lalu

    Immuno Cure Kicks off Phase I Clinical Study of Therapeutic DNA Vaccine for HIV in Hong Kong

  • 8
    Kilas Global  3 hari lalu

    Asian Financial Forum concludes successfully in Hong Kong, gathering over 4,000 global business leaders and officials

  • 9
    Kilas Global  5 hari lalu

    Faraday Future Founder and Co-CEO YT Jia Shares Weekly Investor Update: The First FF EAI Robotics Product Has Completed .....

  • 10
    Kilas Global  7 hari lalu

    Paul Chan highlights Hong Kong's strengths before concluding his visit to the WEF Annual Meeting in Davos

  • Copyright © 2012 - 2026 riauone.com | Berita Nusantara Terkini. All Rights Reserved.Jasa SEO SMM Panel Buy Instagram Verification Instagram Verified