• Home
  • Kilas Global
  • Hiruk Pikuk Impor Beras, Rizal Ramli: Ada Komisi 30 Dolar per Ton di Setiap Impor
Minggu, 14 Januari 2018 18:29:00

Hiruk Pikuk Impor Beras, Rizal Ramli: Ada Komisi 30 Dolar per Ton di Setiap Impor

NASIONAL, - Harga beras kembali melambung di tahun 2018. Untuk mengatasi tingginya masalah ini, Kementerian Perdagangan (Kemendag) akhirnya memutuskan membuka keran impor beras sebanyak 500 ribu ton.
 
Mendag Engiartiasto Lukito mengatakan, jenis beras yang diimpor pada saat ini merupakan jenis beras khusus yang tidak ditanam di Indonesia, dan memiliki landasan hukum berupa Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 1 Tahun 2018. Sehingga hal ini tidak akan mengganggu produksi dalam negeri.
 
Pakar ekonomi Rizal Ramli mengatakan, masalah yang selalu menghiasi krisis beras adalah soal data. Pengalaman Rizal, Kemendag dan Bulog selalu mau impor.
 
“Sebab, ada komisi 20-30 dolar per ton. Transaksinya di luar negeri, ‘account’ bank juga berada di luar negeri. Tetapi Kementan, selalu bilang produksi lebih dari cukup. Sebab ini terkait dengan prestasi mereka. Faktanya angka yang benar itu di tengah,” kata Rizal kepada wartawan di Jakarta, Jumat (12/1/2018).
 
Yang harusnya menilai, sambung RR, sapaan Rizal Ramli, harusnya Menko Perekonomian Darmin Nasution.
 
“Saya bingung di mana posisi Kemenko Perekonomian sekarang dalam menentukan data ini,” imbuh dia lagi.
 
Dalam sejarahnya, Rizal melanjutkan, uang paling mudah didapat dari komisi impor komoditi. Jadi duitnya, gampang kalau main di beras, kedelai, gula, daging dan lain-lain.
 
Ia pun heran, ada rapat kebijakan harus impor beras dalam 2-3 hari ini. Sebab, sebentar lagi kan mau panen.
 
“Stok di gudang Bulog memang 900 ribu ton, tapi itu cukup untuk dua bulan lagi. Panen kan sebentar lagi, Februari Maret, dan Bulog bisa beli,” Rizal menyarankan.
 
Masalahnya, sekarang Bulog pasif, pada saat panen, tidak beli beras. Padahal seharusnya Bulog tahu berapa yang harus dibeli.
 
“Saya tidak tahu ini sengaja atau tidak. Meski, memang Bulog sekarang beda dengan dulu yang tak ada bunga kredit, turun langsung dari likuiditas Bank Indonesia. Dan itu tidak bener ini, ini kan sektor strategis,” tandasnya. (*) 
sumber: teropongsenayan.
Share
Berita Terkait
  • 56 menit lalu

    Aspire Secures Securities and Asset Management Licences from Hong Kong's Securities and Futures Commission

    Regulatory milestone paves the way for launch of Aspire Yield, enabling businesses to e
  • 59 menit lalu

    New Research from ST Telemedia Global Data Centres Reveals Asia's AI Ambitions Hampered by Infrastructure and Talent Gaps

    Singapore leads the region in maturity but faces critical scaling bottlenecks.
  • satu jam lalu

    Huawei Cloud Introduces Token Service in Asia Pacific

    JAKARTA, INDONESIA - Media OutReach Newswire - 15 April 2026 - Huawei Cloud AI Boost Da
  • satu jam lalu

    AI Compute, Simplified: ST Telemedia Global Data Centres and SuperX Debut AI Innovation Centre in Singapore

    Strategic partnership combines STT GDC's resilient infrastructure with SuperX AI o
  • Komentar
    Copyright © 2012 - 2026 riauone.com | Berita Nusantara Terkini. All Rights Reserved.Jasa SEO SMM Panel Buy Instagram Verification Instagram Verified