- Home
- Kilas Global
- Krisis Keteladanan dan Masa Depan Generasi
Senin, 03 Agustus 2026 07:11:00
Krisis Keteladanan dan Masa Depan Generasi
Oleh
Siti Amie, S.Pd
Beberapa tahun terakhir, kita disuguhi potret generasi yang memprihatinkan. Kasus perundungan (bullying) di lingkungan sekolah terus bermunculan. Kekerasan seksual yang melibatkan anak dan remaja masih menjadi persoalan serius. Ancaman bom di lingkungan pendidikan sempat mengusik rasa aman peserta didik.
Di saat yang sama, pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) tanpa pengawasan mulai menggeser proses belajar, sementara kecanduan gawai semakin sulit dipisahkan dari keseharian anak-anak. Berbagai fenomena tersebut menjadi gambaran bahwa generasi hari ini sedang menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan generasi sebelumnya.
Berbagai upaya pun terus dilakukan. Sekolah memperkuat pendidikan karakter, pemerintah meluncurkan beragam program, orang tua memberikan nasihat, bahkan seminar motivasi untuk remaja semakin banyak diselenggarakan. Namun, mengapa berbagai persoalan tersebut masih terus berulang?.
Mungkin persoalannya bukan karena anak-anak kehilangan nasihat. Mereka justru hidup di tengah banjir nasihat. Yang semakin langka adalah keteladanan. Anak lebih mudah meniru apa yang mereka lihat setiap hari daripada mengingat apa yang mereka dengar sesekali. Ketika orang dewasa meminta anak berlaku jujur, disiplin, dan bertanggung jawab, tetapi dalam kehidupan nyata mereka menyaksikan perilaku yang bertolak belakang, maka nasihat kehilangan kekuatannya.
Tidak dapat dimungkiri, degradasi moral yang terjadi pada sebagian generasi saat ini juga dipengaruhi oleh sistem pendidikan yang lebih menitikberatkan pada pencapaian akademik daripada pembentukan karakter. Orientasi pendidikan yang dipengaruhi cara pandang materialistis menjadikan keberhasilan lebih sering diukur melalui angka, nilai rapor, prestasi, dan capaian akademik semata. Akibatnya, peserta didik berpotensi kehilangan arah karena pendidikan belum sepenuhnya membimbing mereka memahami nilai benar dan salah sebagai pagar dalam menjalani kehidupan.
Padahal, pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Pendidikan merupakan proses panjang yang berlangsung dalam tiga lingkungan utama, yaitu keluarga, sekolah, dan negara. Ketiga unsur ini saling melengkapi dan tidak dapat berjalan sendiri-sendiri.
Lingkungan pertama adalah keluarga. Orang tualah yang menjadi pendidik pertama sekaligus teladan utama bagi anak. Namun, realitas hari ini menunjukkan tidak sedikit orang tua yang harus menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Akibatnya, pendidikan anak sering kali diserahkan hampir sepenuhnya kepada sekolah. Padahal, sekolah tidak pernah dirancang untuk menggantikan peran keluarga.
Lingkungan kedua adalah sekolah. Tidak dapat dipungkiri bahwa para guru telah berupaya menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Namun, dunia pendidikan formal juga menghadapi persoalan yang tidak sederhana. Selain harus mendidik, guru dibebani berbagai tugas administratif dan penyesuaian terhadap kebijakan yang terus berubah. Hampir setiap pergantian pemerintahan diikuti perubahan arah kebijakan pendidikan, termasuk penyempurnaan kurikulum. Sebagian perubahan memang membawa pembaruan yang positif, tetapi tidak sedikit yang lebih bersifat teknis sehingga belum menyentuh akar persoalan pembentukan karakter peserta didik.
Akibatnya, pendidikan karakter kerap berjalan di tempat. Kurikulum berubah, istilah berganti, metode diperbarui, tetapi tantangan moral generasi tetap menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. Sekolah akhirnya lebih banyak disibukkan mengejar target akademik dibandingkan memastikan setiap peserta didik tumbuh menjadi pribadi yang berintegritas dan memiliki akhlak yang baik.
Lingkungan ketiga adalah negara. Negara memegang peran strategis dalam menentukan arah pendidikan sekaligus menciptakan ekosistem yang mendukung tumbuh kembang generasi. Negara bukan hanya bertugas menyusun kurikulum, tetapi juga menghadirkan kebijakan yang mampu melindungi anak dari berbagai ancaman moral, sosial, maupun digital.
Pembentukan karakter generasi tidak akan berjalan optimal apabila teladan yang mereka saksikan dalam kehidupan bermasyarakat justru bertolak belakang dengan nilai-nilai yang diajarkan di sekolah. Masyarakat tentu berharap para pemimpin, pejabat publik, maupun aparat penegak hukum menjadi contoh dalam menjunjung kejujuran, amanah, dan tanggung jawab. Namun, ketika berbagai kasus penyalahgunaan wewenang, korupsi, atau pelanggaran hukum melibatkan figur-figur yang seharusnya menjadi panutan, kepercayaan masyarakat pun ikut tergerus. Anak-anak akhirnya menyaksikan adanya jarak antara nilai yang diajarkan dan realitas yang mereka lihat.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak dapat dibebankan hanya kepada guru dan orang tua. Keteladanan harus hadir dalam seluruh aspek kehidupan, mulai dari keluarga, sekolah, lingkungan masyarakat, hingga penyelenggara negara. Sebab, karakter bukan hanya dibentuk melalui teori, tetapi juga melalui contoh nyata yang disaksikan setiap hari.
Di era digital, tantangan tersebut menjadi semakin besar. Anak-anak tidak hanya belajar dari orang tua dan guru, tetapi juga dari media sosial, kreator konten, tokoh publik, bahkan algoritma yang terus menyajikan berbagai informasi sesuai minat pengguna. Dalam kondisi seperti ini, pendidikan yang hanya berorientasi pada capaian akademik akan kesulitan membentuk pribadi yang tangguh apabila tidak disertai fondasi nilai yang kuat.
Dalam perspektif Islam, pembentukan generasi dimulai dari pembinaan akidah sejak usia dini. Anak diperkenalkan kepada Allah Swt., memahami tujuan penciptaannya, serta menyadari bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban. Landasan keimanan inilah yang menjadi pengarah bagi seluruh proses pendidikan berikutnya.
Setelah fondasi akidah dibangun, anak didorong menguasai berbagai cabang ilmu pengetahuan sebagai bekal menjalankan perannya sebagai khalifah di muka bumi. Islam tidak mempertentangkan ilmu agama dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Keduanya justru saling menguatkan agar lahir generasi yang beriman, berilmu, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
Selain itu negara juga memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga masyarakat dari berbagai hal yang dapat merusak akidah dan akhlak. Karena itu, kebijakan pendidikan, informasi, dan media semestinya diarahkan untuk mendukung pembentukan generasi yang bertakwa, bukan sekadar mengejar keberhasilan material. Perkembangan teknologi, termasuk media digital dan kecerdasan artifisial, dipandang sebagai sarana yang dapat dimanfaatkan untuk kemaslahatan selama penggunaannya berada dalam koridor syariat dan nilai-nilai moral.
Tentu, mewujudkan generasi yang berkarakter tidak dapat dilakukan melalui langkah-langkah yang bersifat parsial. Dibutuhkan sinergi antara keluarga yang menghadirkan kasih sayang dan pembinaan iman, sekolah yang mengembangkan ilmu dan adab, serta negara yang menghadirkan kebijakan yang berpihak pada pembentukan manusia yang berkualitas. Ketika ketiga pilar tersebut berjalan seiring, pendidikan tidak lagi sekadar menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga pribadi yang matang secara moral dan spiritual.
Pada akhirnya, generasi hari ini sesungguhnya tidak kekurangan nasihat. Mereka mendengarnya di sekolah, di rumah, di media sosial, bahkan dalam berbagai kampanye pendidikan karakter. Namun, yang semakin mereka rindukan adalah hadirnya teladan yang hidup dalam keseharian. Sebab, anak tidak tumbuh dari apa yang kita ucapkan, melainkan dari apa yang mereka saksikan.
Ketika keluarga menghadirkan keteladanan, sekolah menguatkan adab, dan negara menegakkan nilai-nilai kebaikan, di situlah harapan untuk melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan bertakwa akan menemukan jalannya.***(Penulis adalah praktisi pendidikan di Kota Dumai)
Share
Komentar










