- Home
- Kilas Global
- Menristekdikti Jangan Main Ancam Pecat Rektor UNRI.
Senin, 04 Juni 2018 21:32:00
Dirut Pusat Advokasi Dan Bantuan Hukum Riau,
Menristekdikti Jangan Main Ancam Pecat Rektor UNRI.
PEKANBARU-Direktur Pusat Advokasi & Bantuan Hukum Riau yang juga ketua LBH KNPI kota Pekanbaru Mayandri Suzarman,SH memberikan apresiasi dan termakasih kepada kepolisian republik indonesia, terutama densus 88 yang telah berhasil menangkap terduga pelaku radikalisme di kampus unri beberapa hari yang lalu dan berharap agar kejadian serupa tidak terulang lagi.
Namun mayandri suzarman sangat menyayangkan adanya opini yang dikembangkan oleh pihak pihak tertentu yang seolah olah menyalahkan pimpinan universitas tersebut dalam kejadian ini..."jangankan universitas, tempat tempat yang dijaga ketat dengan senjata lengkap dan telah terjamin keamanannya pun berhasil dimasuki oleh teroris" ujar mayandri.
Mayandri berharap agar semua pihak melihat kejadian ini secara objektif dan tidak terburu buru menyimpulkan dan menyalahkan pimpinan universitas...."kampus itu adalah tempat publik, bukan tempat privat, jadi semua orang bisa bebas memasuki areal kampus, jadi tentu tidak mungkin kita menyalahkan pimpinan universitas atas kejadian tersebut...tugas kita bersamalah untuk mengawasi lingkungan dan keamana kita" ujar mayandri....
mayandri juga menyayangkan pernyataan menristekdikti di media online cnn indonesia yang mengancam akan memecat rektor unri dari jabatannya terkait dengan adanya dugaan perakitan bom oleh teroris di unri adalah pernyataan yang terlalu dini dan tidak objektif karena seolah olah menyalahkan pimpinan universitas tersebut, seharusnya menristekdikti mencari dulu fakta fakta atas kejadian tersebut, jangan langsung menyalahkan pimpinannya...lakukan dulu infestigasi atas kejadian tersebut lalu cari solusinya, jangan main ancam pecat saja.
Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengancam akan memecat Rektor Universitas Riau (Unri) Aras Mulyadi dari jabatannya. Hal itu terkait kegiatan perakitan bom oleh terduga teroris di kampusnya.
"Kemungkinan [pemecatan]. Lihat tingkat kesalahannya. Kalau dia adalah pendukung, lain lagi urusannya," ujar Nasir di Jakarta, Senin (4/6).
Saat ini, Nasir menyebut pihaknya sedang memeriksa Aras secara intensif untuk memastikan apakah temuan terduga teroris di Unri adalah karena kelalaiannya sebagai rektor atau bukan.
"Ini belum kami pelajari. Kami lagi mengumpulkan data dan informasi karena kampus harus betul-betul bebas dari radikalisme. Harus bersih. Tidak boleh lagi," kata Nasir.
Lihat juga: DPRD Riau Perketat Keamanan Usai Bom Gagal Diledakkan
Mantan rektor Universitas Diponegoro itu akan memanggil para rektor perguruan tinggi negeri (PTN) dan lembaga Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) untuk mencegah kasus Unri terulang.
"Nanti tanggal 25 Juni saya akan kumpulkan rektor PTN, direktur, politeknik, kopertis akan saya kumpulkan dan bicara detail bagaimana cara sistem pengamanan dalam kampus," kata Nasir.
Terkait pencegahan radikalisme di kampus, Nasir berencana memasukkan ilmu sosial dasar sebagai kurikulum wajib mahasiswa eksakta dan ilmu alamiah dasar untuk mahasiswa sosial humaniora.
Lihat juga: Polri Sebut Terduga Teroris di UNRI Terkait Penyerangan Polda
Rencana tersebut berkenaan dengan pernyataan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang menyebut mahasiswa eksakta lebih mudah terpengaruh paham radikalisme.
"Ini sudah mulai masuk tahun ini. Saya suruh masukan kurikulum," ujarnya.
Pada Sabtu (2/6), Detasemen Khusus 88 Antiteror menangkap seorang terduga teroris di Universitas Riau berinisial MNZ.
MNZ merupakan mantan mahasiswa Unri. Ia ditangkap sekitar pukul 13.30 WIB di dalam Kampus Unri.
Lihat juga: Rektor Unri Konsolidasi Internal Pascapenangkapan Teroris
Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto menjelaskan pada pukul 13.30 WIB, Densus melakukan penggeledahan di kampus Unri Fakultas Fisipol, Kelurahan Simpang Baru, Kecamatan Tampan Kota Pekanbaru, Provinsi Riau. Polisi juga menemukan bom rakitan di kampus tersebut.
Sementara itu, Aras menyebut pihak kampus sama sekali tidak mencurigai seluruh kegiatan, terutama yang melibatkan alumni di salah satu perguruan tinggi tertua di Riau tersebut.
Atas dasar itu, Aras mengaku sangat menyayangkan insiden tersebut. Terlebih, terduga teroris menggunakan gelanggang mahasiswa untuk menutup jejak pembuatan bom rakitan yang diduga bakal dipakai menyerang DPR dan DPRD Riau.(4bu)
)
Share
Komentar









