- Home
- Kilas Global
- Susahnya Menerima Telepon di Perbatasan Indonesia
Kamis, 15 Juni 2017 20:08:00
Susahnya Menerima Telepon di Perbatasan Indonesia
NUSANTARA, — Sebagai negara kepulauan terbesar dunia, Indonesia memiliki tantangan tersendiri dalam membangun akses informasi yang menyeluruh. Jaringan telekomunikasi, baik berupa suara maupun data, masih belum menjangkau seluruh daerah secara merata, terutama daerah terluar yang berbatasan dengan negara lain.
Anang Latif, Direktur Utama Badan Penyedia dan Pengelola Pembiayaan Telekomunikasi dan Informatika (BP3TI) menceritakan bagaimana sulitnya seorang anggota TNI yang berjaga di wilayah perbatasan terluar berkomunikasi, baik dengan keluarga di rumah maupun atasannya, selama menjalankan tugas di wilayah Indonesia yang berbatasan dengan negara Malaysia.
Seperti diketahui, wilayah Indonesia bagian utara berbatasan langsung dengan negara Malaysia sepanjang 1.782 km. Selain Malaysia, ada juga negara lainya seperti Singapura, Filipina, dan Laut China Selatan. Kemudian, bagian paling selatan berbatasan dengan Australia, Timor Leste dan dikelilingi Samudra. Sementara, perbatasan sepanjang 820 km membatasi Indonesia dengan Papua Nugini, Timor Leste, dan Samudra Pasifik.
Menurut Anang, pada saat dirinya memantau wilayah perbatasan Indonesia bagian utara, ada salah satu anggota TNI yang berjaga di wilayah perbatasan dengan Malaysia menerima telepon dari atasannya.
Namun, anggota TNI tersebut mengetahui jika mengangkat telepon tersebut akan terkena pulsa roaming karena sinyal yang diterima berasal dari negara tetangga. Sang tentara terpaksa harus lari ratusan meter masuk ke wilayah pedalaman Indonesia agar mendapatkan sinyal dari operator dalam negeri supaya terbebas dari roaming, baru kemudian mengangkat telepon dari atasannya.
"Dia harus lari dulu sejauh mungkin masuk ke wilayah Indonesia dari pos jaga perbatasan tadi. Biar tidak kena roaming. Kasihan kalau seperti itu terus," tuturnya.
Anang mengaku prihatin dengan kondisi tersebut, pasalnya menurut Anang, sampai saat ini sinyal dari Base Transceiver Station (BTS) operator masih belum banyak yang menyentuh hingga ke wilayah perbatasan.
Anang memprediksi, salah satu alasan operator jarang membangun BTS hingga ke wilayah terluar perbatasan Indonesia, karena sama sekali tidak akan menguntungkan operator tersebut dari sisi bisnis.
"Kalau membangun BTS di perbatasan, tidak banyak yang menggunakan handphone di sana. Makanya kami akan menjalankan program untuk membangun BTS sampai 2019 nanti, hingga ke wilayah perbatasan. Jadi anggota yang berjaga di sana, tetap dapat berkomunikasi dengan baik," katanya. (bis).
Share
Berita Terkait
Jam Dinas, Karyawan Rumah Sakit Dilarang Gunakan Telepon Seluler
TAPAKTUAN, NUSANTARA, - Badan Layanan Usaha Daerah (BLUD) RSUD-Yuliddin Away Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan meningkatkan pelayanan terhadap pasien. Karyawan/karyawati di
Diterapkan di Semua Daerah, Nomor Telpon 112 Untuk Semua Urusan Darurat
JAKARTA, NUSANTARA, - Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) telah melangsungkan Penandatanganan Nota Kesepahaman (MOU) dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika tentang
Warga agar berhati-hati terhadap penelepon gelap dari RS atau kepolisian
RIAUONE.COM, BENGKALIS, RIAU, ROC, - Penjabat Bupati Bengkalis H Ahmad Syah Harrofie mengimbau warganya untuk berhati-hati dan waspada terhadap pelaku peni
Ingat, Pelaku Telepon Gelap Terus Diincar Polisi
riauonecom, Selatpajang, Meranti, roc - Atas kejadian telepon gelap yang terjadi di Kabupaten Kepulauan Meranti pada Senin (2/2/2015) pagi lalu yang hampir memakan 21 koban
Komentar
Copyright © 2012 - 2026 riauone.com | Berita Nusantara Terkini. All Rights Reserved.Jasa SEO SMM Panel Buy Instagram Verification Instagram Verified










