Rabu, 29 Juni 2016 21:25:00
Realisasi Tanaman Kehidupan RAPP Capai 70 Persen
PELALAWAN, RIAUONE. COM – Realisasi program Tanaman Kehidupan oleh PT. Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) mencapai 70 persen dari total luas 1.670 hektar di Pulau Padang, Kabupaten Kepulauan Meranti.
Pelaksanaan program tersebut sesuai dengan hasil kesepakatan atau MoU dengan masyarakat. Hal tersebut disampaikan North Regional Manager RAPP, Marzum , Rabu (29/6/2016) di Pangkalan Kerinci.
Marzum mengatakan hingga saat ini program tanaman kehidupan berjalan sesuai rencana dan sisanya masih dalam tahap verifikasi cadangan karbon atau HCS (High Carbon Stock).
Ditambahkan Marzum, dalam pengelolaan tanaman kehidupan, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Kepala Desa dan Tim Desa setempat serta melibatkan obsverasi land cover oleh NGO lokal.
"Untuk tahap satu, sesuai kesepakatan, sebanyak 30 persennya sudah kita bagikan kepada masyarakat dan sisanya akan dikelola oleh tim desa," kata Marzum.
Ketua Tim Desa yang juga Kepala Dusun Sei Hiu Desa Tanjung Padang, Auzar mengatakan hingga saat ini pelaksanaan program tanaman kehidupan sangat membantu masyarakat dan sesuai dengan prosedur berlaku.
"Saya bicara sesuai kenyataan, justru dengan tanaman kehidupan ini, menguntungkan masyarakat apalagi bulan puasa dan dekat hari raya ini," ujar Auzar.
Kepala Desa Tanjung Padang, Abu Sufian mengatakan perkembangan program tanaman kehidupan di desanya berjalan lancar, meski baru terhitung tahun pertama, pihaknya bersama masyarakat, sudah bisa menikmati hasil dari program tersebut.
"Alhamdulillah, program tanaman kehidupan ini sangat membawa manfaat bagi kami, apalagi jelang hari raya ini, ekonomi masyarakat secara umum kan cukup parah, tapi berkat RAPP kami tetap bisa memperoleh hasilnya," ujar Abu Sufian ketika ditemui pada kegiatan penandatanganan MoU Desa Bebas Api, Rabu (29/6/2016) di Pangkalan Kerinci.
Abu menambahkan belajar dari tempat lain, pihaknya bersama para tokoh masyarakat berinisiatif membangun tanaman kehidupan berupa tanaman akasia dengan masa daur 5 tahun, terhitung tahun 2016 ini.
"Kalau karet hasilnya agak kurang memuaskan karena kurangnya kepadatan tanah, apalagi baru 7-8 tahun baru panen, tapi akasia 5 tahun bisa panen, malah menguntungkan, apalagi yang mengerjakan adalah ahlinya (RAPP, red), jadi yang kita perlu itu kan hasilnya dulu, bukan jenis tanamannya," lanjut dia.
Sedangkan untuk perhitungannya, Abu menjelaskan, dari luas tanaman kehidupan di desanya sekitar 200 hektar, sesuai kesepakatan masyarakat akan memperoleh hasil yang akan dibagikan secara bertahap selama 5 tahun. Kepala Desa bersama tim Desa akan menentukan secara proporsional hasil yang diperoleh oleh masyarakat.(rls/uzi)









