Rabu, 07 Maret 2018 14:56:00

Suhardi : Selamat Jalan Buya Syahrizul Nur

Oleh : Suhardi
Alumnus Pondok Pesantren Daarun Nahdhah Bangkinang
 
KAMPAR - Langit Kabupaten Kampar diselimuti kabut duka yang teramat pekat terkait wafatnya seorang ulama bersahaja, sekaligus tokoh pendidik handal, yakni H. Syahrizul Nur Bin KH. Muhammad Nur Mahyuddin, pada Ahad(04/03) kemarin.
 
Buya Izul begitu santri dan masyarakat Kampar memanggilnya merupakan pimpinan Pondok Pesantren Daarun Nahdah Thawalib Bangkinang. Ia menggantikan ayahnya KH.Muhammad Nur Mahyuddin pada tahun 1994. Buya Izul mengajar di Pondok Pesantren Daarun Nahdhah Thawalib Bangkinang Selepas menamatkan pendidikan sarjananya di Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang sekarang dikenal dengan nama UIN Sunan Kalijaga.
 
Kemahirannya dalam mengajar terutama dalam mata pelajaran Ushul Fiqh, Ilmu Mantiq (Logika) membuatnya mendapat tempat dihati santri. Pemaparannya dengan mengaitkannya dengan persoalan-persoalan kekinian, memantik perhatian santri sehingga mata pelajaran yang dianggap sulit, terlihat mudah dan menarik. Kepiawaiannya tidak hanya dalam mengajar, tapi juga dalam hal kepemimpinan.
 
Makanya tak salah KH Muhammad Nur atau yang dikenal dengan panggilan Buya Kabir telah mempersiapkannya sebagai teraju utama pesantren tertua di Kampar ini.
 
PPDN-TB sendiri dalam catatan sejarah adalah lanjutan dari Madrasah Darul Mu’allimin pimpinan Syekh Abdul Malik yang didirikan tahun 1923 dan ketika Jepang masuk ke Indonesia tahun 1942 aktivitas madrasah menjadi terhenti, dan atas prakarsa KH.M.Nur Mahyuddin yang notabene murid Syekh Abdul Malik dengan sejumlah ulama dan tokoh masyarakat setempat (Muara Uwai) menyepakati untuk menghidupkan kembali madrasah tersebut.
 
Dan pada tanggal 11 Agustus 1948 resmilah berdiri dengan nama Pondok Pesantren Daarun Nahdhah Thawalib Bangkinang (PPDN-TB).
 
Nama-nama besar seperti
Prof.Dr.Amir Lutfi,
Prof.Dr.HM.Nazir Karim, MA, 
Prof.Dr.H.Munzir Hitami, 
Prof.Dr.H.Ilyas Husti, 
Prof.Dr.H.Akbarizan, MA, 
Dr.H.Mawardi Saleh,MA, 
Dr.H.Dasman Yahya, MA, 
Dr.H.Helmi Basri, MA, 
Dr.H.Ahmad Zikri, 
Dr.H.Johari, MA, 
Dr.H.Erman Gani, 
Masnur Marzuki, SH,LLM
 
merupakan sebagian kecil dari alumnus PPDN-TB yang bergerak dalam ranah akademisi.
 
Tak ketinggalan juga di bidang lain, seperti
HM.Haris (Bupati Pelalawan), 
H.Ahmad Fikri (Ketua DPRD Kampar),
M.Jamil, Msi (Kadis PMPTSP Pekanbaru)
Sunardi Edi (Wakil Ketua DPRD Kampar), 
Fairus (anggota DPRD Siak) dan banyak lagi lulusan PPDN-TB yang sukses bergerak di berbagai bidang.
 
Reformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri Kehadiran Buya Izul sebagai generasi kedua yang memimpin PPDN-TB, sesungguhnya amat menarik ditelisik di tengah peralihan sistim pendidikan di pondok pesantren. 
 
Sebagai seorang anak muda yang telah menyelesaikan kuliahnya di Yogyakarta, tentu memiliki pandangan-pandangan besar dalam melihat peran penting institusi dan pendidikan Islam. Apalagi pendidikan Islam pada masa dia muda masih dianggap sebelah mata. 
 
Lulusan pondok pesantren hanya berkutat pada ruang sempit atau dikenal sebagai pembaca doa dan khutbah saja, atau paling mujur dan sedikit beruntung sebagai guru agama.
 
Seiring perkembangan zaman, Buya Izul melihat pondok pesantren harus merubah dirinya.
 
Dalam bahasa penulis, PPDN-TB harus mereformasi diri tanpa harus kehilangan jati diri. 
 
Semula mata pelajaran hanya terfokus dalam bidang agama, kemudian secara bertahap memasukkan mata pelajaran umum. 
 
Pekerjaan ini bukanlah pekerjaan mudah dan ringan, sebab dikotomi ilmu dalam dunia pendidikan di Indonesia sudah terlanjur menjalar di dunia pesantren, termasuk di PPDN-TB. Alhasil, santri tidak akan merasa rugi dan malu, jika mata pelajaran umum tidak mencapai nilai maksimal. 
 
Berbanding terbalik, jika mata pelajaran dasar seperti Nahwu-Sharaf (ilmu tata bahasa arab) yang mendapat nilai rendah, maka santri akan merasa rendah diri, bersalah,kalah. Buya Izul sesungguhnya menyadari hal ini. Untuk mengikis dikotomi ini dan menumbuhkan kecintaan santri pada ilmu, PPDN-TB diikutkan untuk mengikuti ujian setingkat MTS dan MA, yang disebut dengan ujian negara. Dimana mata pelajaran umum ikut diuji dalam ujian akhir ini, dan santri bisa memiliki Ijazah MTS dan MA. 
 
Tidak hanya sampai mengikuti ujian yang ditetapkan negara untuk tingkat MTS/MA, Buya Izul juga membuka jurusan selain agama untuk tingkat Aliyah, yakni Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dan Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). 
 
Santri diberikan peluang untuk menyalurkan keahlian selaras dengan kemampuan dan kemauannya. Buya Izul menyadari, zaman telah berubah. Perubahan harus disikapi dengan bijak.
 
Baginya pendidikan harus memberikan solusi dan kontribusi dalam pembangunan negeri dan bangsa. Penulis berkeyakinan, pengembaraan pendidikannya di Yogyakarta menjadi penyumbang alur pikir dan cara pandangnya tentang pesantren dan pendidikan Islam. 
 
Semua penduduk negeri ini mafhum bahwa Yogyakarta adalah salah satu kawahcandradimuka lahirnya intelektual dan tokoh bangsa yang handal. 
 
Penulis yang juga mengenyam pendidikan di Yogyakarta, merasakan bahwa Yogyakarta adalah tempat singgahnya ide-ide besar.
 
Ide dan pandangannya tentang pentingnya pendidikan dan pegembangan institusi Islam semakin mendapat tempat manakala dirinya memimpin dan membangun pesantren dengan kedisiplinan dan ketegasan. 
 
Aturan bagaimana mengatur aktivitas santri dalam 24 jam yang telah dirintis oleh ayahnya tetap dilaksanakannya dengan penuh kedisplinan dan ketegasan. Mendengar namanya saja, nyali santri sudah ciut. 
 
Ungkapannya yang spontan dalam dialek Ocu sudah menjadi ciri khasnya di mata santri. Kendatipun demikian, Buya Izul tidak kehilangan sisi humorisnya.
 
Penulis masih ingat bagaimana Buya Izul “meledek” penulis sambil tersenyum dan membuat penulis juga tersenyum. Dan yang paling berkesan dihati penulis bagaimana Buya Izul mau menerima sistem pemilihan (demokrasi) dalam memilih ketua asrama santri.
 
Sebelumnya ketua asrama yang bertanggungjawab terhadap lalu lintas semua santri dan penegakan peraturan pondok dipilih langsung oleh Buya Izul, namun dimasa penulis menjadi santri, pemilihan pimpinan itu sepenuhnya diserahkan kepada santri. 
 
Maknanya buya akur dan mampu menerima ide-ide baik sekalipun dari santrinya.
 
Ulama Santun dan Bersahaja Interaksi Buya Izul dengan pemerintah daerah dan juga tokoh-tokoh Kampar berjalan dengan baik. Ia sungguh piawai menempatkan diri dan berkomunikasi dengan semua kalangan. 
 
Independensi institusi pesantren sangat dijaganya dengan baik, sehingga tidak terjebak dalam kepentingan politik. Makanya setiap perayaan akhir tahun PPDN-TB, pemerintah daerah dan Provinsi Riau dan tokoh-tokoh berpengaruh selalu hadir. Baginya pesantren adalah milik semua kalangan, bukan partisan. 
 
Makanya tak salah Bupati Kampar mengatakan dalam sambutannya saat melepas jenazahnya, “Kampar telah kehilangan sosok ulama yang bisa menyesuaikan dan berkomunikasi santun dengan segala kalangan, tokoh pendidik yang bersahaja”. 
 
Dan satu hal yang patut dijadikan contoh oleh santri bahwa tidak ada kata berhenti untuk belajar. 
 
Disaat kondisi kesehatannya terganggu, Buya Izul berhasil menyelesaikan strata duanya di UIN Suska Riau, bahkan kalau kondisinya membaik, seperti yang diungkapkan oleh salu majlis guru yang dekat dengannya yakni Syukri,M.sy, ia akan mengambil program doktoral.
 
Kini, Buya Izul telah pergi menghadap ilahi dan tumpah ruahnya semua lulusan PPDN-TB, pejabat daerah, masyarakat yang menghantar beliau, menjadi pertanda bahwa buya Izul adalah kebanggaan negeri ini, khususnya Kampar. Kenapa semua santri dan masyarakat mencintaimu buya?.
 
Jawaban penulis adalah, karena dirimu adalah ulama bersahaja yang mendidik dengan hati. 
 
Selamat jalan Buya Syahrizul Nur, semoga Allah mengampunkan segala dosa dan kesalahannmu, serta menempatkanmu di tempat yang terbaik. Aamiin.
 
(rls/mzi)
Share
Komentar
Copyright © 2012 - 2026 riauone.com | Berita Nusantara Terkini. All Rights Reserved.Jasa SEO SMM Panel Buy Instagram Verification Instagram Verified