Rabu, 18 Januari 2017 12:44:00

Pemko Lhokseumawe Cari Obat Penawar ke Meranti

Temu ramah Pemkab dan Pemko Lhokseumawe, Selasa (27/1/2017) malam di ballroom Grand Meranti Hotel, Selatpanjang.
SELATPANJANG, MERANTI (ROC) - Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti kedatangan tamu dari Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh. Rombongan Pemko tersebut rupanya ingin mencari obat penawar bagi daerahnya yang sedang sakit.

Pelaksana Tugas (Plt) Walikota Lhokseumawe Nazaruddin SE, mengatakan kunjungan mereka ke Kabupaten Kepulauan Meranti bertujuan untuk menjalin silaturahmi, kerjasama dan juga mempelajari berbagai aspek untuk bisa menyelesaikan secara efektif pekerjaan di zaman yang serba sulit seperti saat ini.

"Kota Lhokseumawe saat ini dalam keadaan sakit, sehingga membutuhkan obat. Maka dari itu, obat panawarnya kami percayakan ada di Kepulauan Meranti sebagai kabupaten termuda di provinsi Riau ini," ujar Nazaruddin saat ramah tamah di Ballroom Grand Meranti Hotel, Jalan Kartini, Selatpanjang, Selasa (17/1/2017) malam.

Bupati Kepulauan Meranti Drs H Irwan MSi menyatakan siap untuk berbagi ilmu dan pengalaman dengan Pemko Lhokseumawe. Kunjungan tersebut diharapkannya bisa menambah informasi dan wawasan tentang tata pekerjaan, baik Pemkab meranti maupun Lhokseumawe.

Dihadapan rombongan Pemko Lhokseumawe, Irwan menceritakan segelintir sejarah serta kondisi Meranti masih tergolong daerah yang tingkat kemiskinannya masih tertinggi di Riau.

Kemudian, lanjut dia, kondisi APBD Kepulauan Meranti tahun 2010 hanya Rp350 miliar. Berkat kerja keras setelah perubahan menjadi Rp590 miliar. Lalu, upaya terus ditingkatkan dan APBD Kepulauan Meranti meningkat Rp700 miliar tahun 2011. Lalu, setelah perubahan menjadi Rp900 miliar.

"Pada tahun 2012, APBD Kepulauan Meranti kembali meningkat menjadi Rp1,1 triliun. Hingga, pada tahun 2015 APBD Meranti menembus angka Rp1,6 triliun," cerita Irwan.

Di tahun 2016 Kepulauan Meranti yang merupakan daerah penghasil minyak harus menelan pil pahit seiring dengan menurunnya harga minyak secara drastis dan ditambah beberapa kebijakan lain.

Dampak dari semua ini, APBD Kepulauan Meranti tahun 2016 menurun dari Rp1,6 triliun menjadi Rp1,4 triliun. Tahun 2017 kembali menurun dari Rp1,4 triliun menjadi Rp1,26 triliun. "Ini sudah tuntutan situasi. Mau tidak mau kita tetap menjalaninya," kata Irwan.

"Sebenarnya daerah kita ini sama-sama sakit. Tapi, yang jelas bagaimana kita bisa bekerjasama dan bisa memberi motivasi untuk lebih giat lagi dalam bekerja," harapnya.(uzi)
Share
Komentar
Copyright © 2012 - 2026 riauone.com | Berita Nusantara Terkini. All Rights Reserved.Jasa SEO SMM Panel Buy Instagram Verification Instagram Verified