• Home
  • Kilas Global
  • Indonesia Tidak Akan Gentar Hadapi Tekanan China soal Laut Natuna Utara
Senin, 04 September 2017 08:47:00

Indonesia Tidak Akan Gentar Hadapi Tekanan China soal Laut Natuna Utara

presiden di natuna
NUSANTARA, - Pemerintah Republik Indonesia diyakini tidak akan gentar menghadapi tekanan Republik Rakyat China (RRC) terkait penamaan wilayah laut Indonesia di perairan utara Natuna.
 
Pekan lalu, tepatnya tanggal 25 Agustus 2017, Kementerian Luar Negeri RRC di Beijing mengirimkan sepucuk surat ke Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia di Jakarta. Secara umum di dalam surat itu China meminta Indonesia membatalkan penamaan Laut Natuna Utara yang diumumkan pada pertengahan Juli lalu.
 
Menurut China, manuver Indonesia bisa memperumit sengketa di perairan itu, selain menimbulkan dampak yang tidak baik bagi prospek perdamaian dan stabilitas kawasan.
 
Pengamat hubungan internasional dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Teguh Santosa, dalam keterangan kepada media (Senin 4/9/2017) mengatakan, wajar saja China mengajukan protes karena kehilangan privilege atau keistimewaan yang mereka dapat selama ini dari penggunaan nama Laut China Selatan.
 
Istilah Laut China Selatan yang selama ini digunakan hingga ke wilayah perairan utara Indonesia telah menguntungkan China dalam banyak hal. Tanpa disadari, lahir semacam anggapan yang meluas di tengah masyarakat internasional bahwa RRC memiliki pengaruh dan mendominasi, bahkan berdaulat atas semua wilayah perairan di kawasan ini.
 
"Padahal, wilayah perairan China hanya sampai pada batas-batas laut teritorinya yang diakui hukum internasional. Di sisi lain Indonesia juga memiliki wilayah laut teritori sendiri, dan karenanya punya hak untuk memberikan nama pada wilayah laut Indonesia,” ujar Teguh Santosa.
 
Lebih jauh dia mengatakan bahwa penggunaan nama Laut Natuna Utara diperlukan untuk kepastian hukum internasional, dan untuk jangka panjang dibutuhkan demi menjaga keamanan dan stabilitas kawasan.
 
"Saya sudah pernah sampaikan, keputusan Indonesia ini adalah ekspresi dari komitmen kuat Indonesia membina keamanan dan stabilitas kawasan. Wajar apabila RRC protes. Tapi ini protes yang lucu,” kata dia sambil menegaskan bahwa penggunaan nama Laut Natuna Utara itu adalah penegasan akan kedaulatan negara dan di saat bersamaan memperlihatkan betapa Indonesia menghormati kedaulatan bangsa lain.
 
Pengajar studi konflik dan kawasan Asia Timur itu  mengatakan, dirinya yakin Presiden Joko Widodo dan Kemenko Kemaritiman sejak zaman Rizal Ramli hingga Luhut B. Panjaitan telah mengkaji dengan sangat serius perubahan nama tersebut.
 
"Bagi Pak Jokowi, kemaritiman adalah isu sentral dan materi utama pembangunan nasional. Penamaan Laut Natuna Utara membangkitkan semangat dan menumbuhkan kepercayaan bahwa pemerintah memiliki strategi yang solid untuk menjaga kedaulatan dan di saat mengembangkan semua potensi kemaritiman. Saya yakin Pak Jokowi tidak akan gentar menghadapi tekanan China untuk urusan ini,” demikian Teguh Santosa. (IND/*).
Share
Berita Terkait
  • 9 bulan lalu

    Wuhan: Green Foundations for a Hub City

    A City Where You Can Feel the Sea
  • 11 bulan lalu

    Dokumen Kurang Lengkap, Karantina Kepri Tolak 8,8 Ton Sayuran Asin Asal China


    KEPRI, BATAM, - Di Provinsi Kepri tepat-nya di pulau Batam,&nb
  • 2 tahun lalu

    Pernah Kepikiran? Kenapa Orang Indonesia Sebut China dengan Tiongkok?


    SERBASERBI, - Sebutan China dan Tiongkok kerap me
  • 3 tahun lalu

    Ada Apa? Hujan Cacing di China? Viral Video Hujan Cacing yang Terjadi di China

    LUARNEGERI, - Sudah dua hari, warga di China, lebih tepatnya di Provinsi Liaoning diperingatkan untuk membawa payung jika keluar rumah. Bukan, kota itu bukan dilanda hujan air y

  • Komentar
    Copyright © 2012 - 2026 riauone.com | Berita Nusantara Terkini. All Rights Reserved.Jasa SEO SMM Panel Buy Instagram Verification Instagram Verified