• Home
  • Kilas Global
  • Sistem keamanan rentan, Pendiri Telegram Ajak Pengguna Hapus Aplikasi WhatsApp
Rabu, 27 November 2019 17:01:00

Sistem keamanan rentan, Pendiri Telegram Ajak Pengguna Hapus Aplikasi WhatsApp


TEKNO, - Sistem keamanan WhatsApp kini disoroti publik karena makin maraknya penemuan bug di aplikasi pesan instan itu dalam beberapa bulan terakhir. Melihat kompetitornya dihadapi berbagai masalah, Telegram memanfaatkan momentum ini untuk cari muka.

Pendiri Telegram, Pavel Durov, menyerukan ajakan untuk menghapus aplikasi WhatsApp dari smartphone. Ajakan itu dilatarbelakangi dengan berbagai masalah yang hadir di platformchatting itu, mulai dari celah sistem yang bisa memata-matai penggunanya hingga rentan diretas lewat kiriman video.

“WhatsApp tidak hanya gagal melindungi pesan WhatsApp kalian, aplikasi ini secara konsisten digunakan sebagai Trojan untuk memata-matai foto dan pesan yang bahkan tidak berasal dari aplikasi WhatsApp,” jelas Durov melalui kanal resminya di Telegram, Durov’s Channel.

Durov menambahkan, Facebook sudah lama ikut ambil bagian dalam program mata-mata jauh sebelum mereka mengakuisisi WhatsApp. Dengan kata lain, WhatsApp adalah senjata bagi Facebook untuk memantau penggunanya.

Sembari menyebutkan daftar kelemahan yang ada di platform WhatsApp, Durov turut menyelipkan klaim bahwa Telegram lebih baik dari aplikasi chatting milik Facebook itu. Meski punya kompleksitas yang serupa, Telegram diklaim Durov tidak pernah mengalami masalah yang dihadapi WhatsApp setelah 6 tahun diluncurkan.

“Mungkin saja WhatsApp secara tidak sengaja menerapkan kerentanan keamanan di aplikasi mereka setiap beberapa bulan. Sangat tidak mungkin ada orang yang sengaja membuat celah keamanan, apalagi yang bisa disusupi oleh mata-mata,” sindirnya.

Sebelumnya, sebuah celah keamanan di WhatsApp terungkap pada Mei 2019 lalu. Bug ini memungkinkan hacker untuk menyusupkan program mata-mata atau spyware melalui panggilan video call, bahkan meski penerima tidak mengangkat panggilan tersebut sekali pun.

Program mata-mata bernama Pegasus itu ditemukan oleh Citizen Lab, yang kala itu menyebut serangan spyware ini menargetkan para jurnalis dan pembela hak asasi manusia. Ternyata spyware itu teridentifikasi buatan NSO Group, yang layanannya laris manis dipakai di kalangan pemerintahan represif di seluruh dunia.

WhatsApp juga pernah mengakui adanya bug di aplikasi pesannya pada awal November 2019 lalu. Celah ini memungkinkan WhatsApp dapat diretas melalui kiriman file video.
sumber: kumparan.

Share
Berita Terkait
  • -31262 detik lalu

    Space42 dan Autonomous A2Z Menandatangani Perjanjian Senilai US$7 Juta untuk Menerapkan Solusi Mobilitas Otonom di UEA

    Perjanjian komersial pertama ini berlandaskan kemitraan kedua perusahaan dalam memperce
  • 6 jam lalu

    VinFast further expands authorized service outlet network in Indonesia, enhancing the aftersales experience

    Representatives of VinFast Indonesia and its partners at the signing ceremony.
  • -30662 detik lalu

    FloQast Recognized by Inc. as One of America's Fastest Growing Private Companies for Fourth Consecutive Year

    The company's continued recognition on Inc. 5000 reflects strong customer growth a
  • -12362 detik lalu

    Dark Horse Consulting Group Expands into China, Appoints Kang Liu as Senior Director, Head of China

    WALNUT CREEK, Calif. and SHANGHAI, Aug. 11, 2026 (GLOBE NEWSWIRE) -- Dark Horse Consult
  • Komentar
    Copyright © 2012 - 2026 riauone.com | Berita Nusantara Terkini. All Rights Reserved.Jasa SEO SMM Panel Buy Instagram Verification Instagram Verified