• Home
  • Hukrim
  • Kembali Memanas. Dua Orang Warga Batang Kumu Luka dan 7 Sepeda Motor Dirusak
Rabu, 18 Oktober 2017 20:40:00

Kembali Memanas. Dua Orang Warga Batang Kumu Luka dan 7 Sepeda Motor Dirusak

Surya Patrianto
ROKAN HULU, RIAUONE.COM - Warga Desa Batang Kumu kembali memanas setelah mendapat Ancaman dan pengrusakan oleh Puluhan orang yang diduga Karyawan PT. MAI ( Mazuma Agro Indonesia) yang membawa senjata tajam, Pedang panjang.
 
 
Petani Desa Batang Kumu, Kecamatan Tambusai yang sedang berada di lahannya sedang melakukan panen sawit kembali diusik oleh puluhan orang yang diduga karyawan PT. Mazuma Agro Indonesia (MAI) membawa senjata tajam pada Rabu pagi (18/10/17) sekira pukul 10.00 WIB.
 
 
Akibat diancam dan dikejar-kejar oleh puluhan orang membawa senjata tajam, sedikitnya 2 petani Kali Kapuk Desa Batang Kumu mengalami luka di bagian atas mata dan atas pelipisnya.
 
 
Kejadian tersebut sudah dilaporkan ke Mapolsek Tambusai, sesuai Nomor: STPL/ 149/ X/ 2017/ Riau/ Res Rohul/ Sek. Tambusai, dengan isi laporan perkara tindak pidana pengancaman dan perusakan sepeda motor.
 
 
Kedua warga mengalami luka, Andi Pakpahan (31) dan Albert Simanjuntak (55),‎ sempat dibawa warga Batang Kumu ke Puskesmas Tambusai. Andi sendiri mengalami luka cukup parah di atas bagian matanya hingga harus mendapatkan 10 jahitan.
 
 
Andi Pakpahan, warga Kali Kapuk Desa Batang Kumu‎ mengaku awalnya dirinya dan sejumlah rekannya sedang memanen kelapa sawit di kebun milik warga, Rabu pagi.
 
 
Ketika sedang memanen, Rabu sekira pukul 10.00 WIB, sekira 70 orang yang diakui warga karyawan PT. MAI menghampiri mereka seraya mengacungkan senjata tajam sejenis samurai dan mengatakan‎ ‎Sini kau, biar aku cincang (potong) kau!!".
 
 
Diancam seperti itu, Andi dan rekan-rekannya melarikan diri, namun naas ia terjatuh dan pingsan. Setelah sadar dan diselamatkan warga, Andi mengaku merasa sakit di bagian atas matanya dan banyak darah mengalir hingga mengalir ke bagian mulutnya.
 
 
"Karena dikejar larilah aku. Aku tidak tahu kenapa bisa luka, karena tidak sadar tadi. Tapi bagian punggungku sakit sekarang," kata Andi kepada riauterkinicom usai resmi melapor di Mapolsek Tambusai, Rabu sore.‎
 
 
Andi mengaku baru sadar ketika sudah dibawa ke kampung oleh warga. Dari hasil visum di Puskesmas Tambusai, korban sempat mendengar petugas mengatakan kalau luka di atas matanya yang mendapatkan 10 jahitan akibat benda tajam.
 
‎‎
Hal serupa juga dialami Albert Simanjuntak. Pria berusia 55 tahun ini juga lari karena didatangi sekira 70 karyawan PT. MAI lengkap dengan senjata tajam.
 
 
Albert mengaku lari karena‎ diancam akan dibacok, "Mari, aku cincang kau!!!". Mendengar itu, ia lari dan terjatuh. Bagian atas pelipisnya juga mengalami luka hingga dirinya juga dibawa ke Puskesmas Tambusai.
 
 
Sejumlah petani mengaku saat terjadi kerusuhan, mereka sempat mendengar dua kali letusan seperti letusan suara senjata api, sehingga petani lain memilih menghindar.‎
 
 
‎Mendengar ada petani dianiaya di perbatasan Riau-Sumut, ratusan warga Desa Batang Kumu ramai-ramai datang ke lahan warga. Setibanya di lokasi, warga melihat masih ada sejumlah karyawan PT. MAI di lokasi.
 
 
Warga mengaku sekira 7 sepeda motor milik petani Batang Kumu yang biasa dipakai untuk membawa buah kelapa sawit dirusak karyawan PT. MAI. Ban dibacok hingga kendaraan tidak bisa dibawa keluar.‎‎
 
 
‎Sementara, Haris Daulay, selaku Kepala Dusun VI Huta Baru Bersatu, Kali Kapuk, Desa Batang Kumu, mengaku keributan dialami petani Kali Kapuk merupakan dampak dari putusan Mahkamah Agung (MA) yang akan mengeksekusi lahan petani dan akan diserahkan ke perusahaan.
 
 
Haris klaim, bahwa lahan yang disengketakan dengan PT. MAI bukan milik petani Kali Kapuk, ‎namun lahan milik Kelompok Tani Harapan Makmur Desa Batang Kumu.
 
 
"Objek perkara dengan petani Kali Kapuk berbeda," kata Haris.
 
 
Terlepas itu, Haris mengatakan konflik di perbatasan Riau-Sumut karena kurangnya perhatian pemerintah kepada petani.
 
 
Ini sudah 5 tahun lebih, sejak 2015. Menurutnya, konflik berkepanjangan antara petani dengan PT. MAI di perbatasan Riau-Sumut ini harus diselesaikan serius oleh pemerintah.
 
 
"Yang terpenting dalam hal ini sebenarnya pemerintah. Harus‎ punya tindakan tegas menyelesaikan masalah ini, supaya jangan berkelanjutan pertikaian antara masyarakat dengan perusahaan, PT. Mazuma Agro Indonesia," sampai Haris.
 
 
"Pernah dimediasi tapi tidak pernah lanjut mediasi itu dan tidak membuahkan hasil. Jadi saya harap, pemerintah tolonglah memfasilitasi masyarakat untuk memediasi, membuat batas usaha masyarakat dengan PT. MAI agar tidak terjadi benturan-benturan ke depan," harap Haris.
 
 
‎Diakuinya, petani Kali Kapuk merupakan warga Desa Batang Kumu, masih warga Rohul dan warga negara Indonesia. Sudah sepantasnya mereka juga mendapatkan haknya.
 
 
Disinggung bagaimana respon Kepolisian menanggapi setiap laporan petani Batang Kumu sebelumnya, Haris ‎mengaku laporan ditindaklanjuti. Namun menurutnya, pemerintah yang harus berperan aktif dalam menyelesaikan konflik antara petani Batang Kumu dengan PT. MAI.
 
 
"Kita berharap ke Polsek Tambusai dan Polres Rokan Hulu agar menindaklanjuti laporan warga saya ini, sebab kendaraan mereka juga dirusak. Sebenarnya ini tidak etis‎ perbuatan perusahaan. Jangan main hukum rimba seperti itu," harap Haris.
 
 
Rita Tampubolon, warga Kali Kapuk Desa Batang Kumu mengaku lahannya tidak mau diganti rugi dan siap mati, sebab ia membuka lahan itu masih hutan belukar.
 
 
"Ditembak 12 peluru kami juga siap.‎ Kita membuka lahan itu hutan, bukan menggarap (lahan milik PT. MAI). Kita kelola tidak ada mengganti satu tanaman pun di sana. Setelah dikelola selama delapan tahun, mulai nampaknya sedikit, masih direbut. Belum selesai kasusnya," tegas Rita.
 
 
Rita mengaku jika lahannya masuk daerah Sumut ia siap mengurus suratnya ke provinsi tetangga, sebab ia juga warga negara Indonesia.
 
 
Saat terjadi kerusuhan, Rita mengaku dirinya dan beberapa tetangganya sedang di lahan miliknya, memanen kelapa sawit. Saat itu datang datang sekira 70 orang perusahaan membawa senjata tajam, seperti kelewang.
 
Tanpa rasa gentar Rita mengaku tidak ikut lari. Bahkan dirinya menjawab setiap pertanyaan dari orang-orang perusahaan tersebut.(Sur)
 
Share
Berita Terkait
  • 3 tahun lalu

    Polisi Sahabat Anak, Polsek Kunto Darussalam Sambangi TK Al Islam Desa Bukit Intan Makmur

    Rokan Hulu, RiauOne.Com - Guna untuk menumbuhkan kesadaran serta kedisiplinan sejak usia dini, BKO Lantas Polsek Kunto Darussalam, Polres Rokan Hulu melaksanakan kegiatan yang d

  • 4 tahun lalu

    Seorang Lelaki Ditemukan Gantung Diri Di Pohon Kelapa Sawit

    Rokan Hulu, RiauOne.Com - Ditemukan seorang pria telah gantung diri dengan menggunakan tali yang terbuat dari potongan potongan karung goni, gantung diri di pohon kelapa sawit,

  • 5 tahun lalu

    Pengunjung Cafe Di Test Anti Gen, Ops Yustisi Sinergi TNI, Polri, Satpol PP Dan Puskemas Ujungbatu

    ROKAN HULU, RIAUONE.COM - Kapolres Rokan Hulu AKBP. Taufiq Lukman Nurhidayat S.IK., M.H, pimpin langsung Operasi Yustisi bersinergi dengan TNI, Dinkes,  SatPol PP, pada mal

  • 5 tahun lalu

    Sidang Langsung Ditempat Bagi Pelanggar Prokes Di Wilayah Hukum Polres Rokan Hulu

    ROKAN HULU, RIAUONE.COM - Kapolres Rokan Hulu ( Rohul) AKBP. Taufiq Lukman Nurhidayat S.I.K., MH memimpin Operasi Yustisi dengan diterapkan sidang langsung di tempat bagi para p

  • Komentar
    Copyright © 2012 - 2026 riauone.com | Berita Nusantara Terkini. All Rights Reserved.Jasa SEO SMM Panel Buy Instagram Verification Instagram Verified