• Home
  • Riau Raya
  • Demi Melestarikan Permainan Tradisional Rakyat, Adil Terus Tekuni Usaha Mengukir Gasing
Minggu, 17 April 2016 16:46:00

Demi Melestarikan Permainan Tradisional Rakyat, Adil Terus Tekuni Usaha Mengukir Gasing

pembuat gasing, Adil warga Desa Kedaburapat, Kecamatan Rangsang Pesisir, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau.
RANGSANGPESISIR, MERANTI, ROC - Kecintaannya terhadap gasing sebagai permainan tradisional rakyat memang tidak pudar. Hal itu dibuktikan Adil (41) warga Desa Kedaburapat, Kecamatan Rangsang Pesisir, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau.
 
Disamping mengelola usaha bengkel sepeda motor miliknya yang sudah bertahun-tahun Ia lakoni, Adil juga membagi waktu menekuni usaha mengukir gasing dari kayu.
 
Pekerjaan memang terbilang cukup rumit, namun ayah dua anak yang penghobi gasing ini sudah menggelut usaha tersebut sekitar 6 tahun. "Alhamdulillah, dalam sehari, saya masih bisa menghasilkan dua buah gasing dengan beberapa jenis," cerita Adil ketika disambangi dikediamannya di Desa Kedaburapat, Sabtu (16/4/2016).
 
Dimana, jenis-jenis gasing yang biasa diukir oleh Adil seperti gasing piring, gasing terenang, gasing telur, berembang, gasing jantung. "Jenis kayu yang saya gunakan untuk membuat gasing seperti kayu bakau, kayu asam jawa, kayu petai cina, dan kempas," jelasnya.
 
Sedangkan untuk harga jual satu buah gasing bervariasi, Ia mematoknya mulai dari Rp500 ribu untuk gasing pangkah sebesar 5,5 inci, Rp80 ribu ukuran 6,5 inci, dan yang paling kecil dijualnya Rp35 ribu per buah untuk ukuran 4 inci.
 
Seiring dengan berkembangnya zaman dan nakin banyaknya jenis permainan modern, Adil cukup merasakan pesanan akan gasing makin berkurang. Namun, dengan kondisi itu setidaknya dalam sebulan hasil ukirannya bisa mencapai 10 buah.
 
"Memang masih ada yang pesan. Bahkan, ada juga pesanan dari Pekanbaru untuk diperkenalkan  ke sekolah-sekolah disana. Saya juga siap melayani pesanan dari wilayah Meranti sendiri," ucapnya.
 
Adil cukup berharap permainan tradisional gasing ini bisa rerus dibangkitkan dan dilestarikan oleh generasi masa kini. Sehingga, bagian dari khazanah sosial budaya masyarakat terdahulu bisa terangkat kembali di masa kini. (uzi).
Share
Berita Terkait
Komentar
Copyright © 2012 - 2026 riauone.com | Berita Nusantara Terkini. All Rights Reserved.Jasa SEO SMM Panel Buy Instagram Verification Instagram Verified